Komunitas Kita Semua Bersaudara menggelar pentas seni di Tristar Restaurant Surabaya, Rabu malam (17/6/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 330 anggota dari berbagai grup tari, menyanyi, dan line dance di Surabaya serta sekitarnya itu berlangsung meriah dan penuh keakraban.
Ketua Komunitas Kita Semua Bersaudara, Megawati (江水金), menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus menyalurkan bakat seni dan budaya para anggota. Ia juga berharap komunitas dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial.
Penasihat komunitas, Aneng (容惠宁), menilai komunitas ini menjadi wadah positif untuk berbagi pengalaman, memperluas pertemanan, serta mendorong gaya hidup sehat melalui berbagai aktivitas. Sementara itu, Wang Zongming (王宗鳴) mengapresiasi perkembangan komunitas yang semakin diminati masyarakat karena mengedepankan kebersamaan dan kekeluargaan.
Acara dimeriahkan dengan berbagai penampilan tari, line dance, dan solo menyanyi dari anggota komunitas, serta hiburan dari sejumlah penyanyi lokal Surabaya. Panitia juga membagikan door prize berupa alat kesehatan dan hadiah menarik lainnya kepada peserta yang beruntung.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Kita Semua Bersaudara berharap dapat terus mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat berbagi, serta membangun komunitas yang solid dan bermanfaat bagi masyarakat. (Red)
Suasana penuh semangat, persahabatan, dan kecintaan terhadap musik Mandarin mewarnai penyelenggaraan Lomba Karaoke Lagu Mandarin Cheerful National Cup 2026 yang digelar di Tristar Restaurant pada 6-7 Juni 2026. Kompetisi tingkat nasional ini menjadi ajang bagi para pecinta lagu Mandarin dari berbagai daerah di Indonesia untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus memperluas pergaulan dan menjalin persahabatan.
Sebanyak 180 peserta ambil bagian dalam kompetisi yang terbagi dalam tiga kategori. Kategori Pemula diikuti peserta berusia 50 tahun ke atas yang terdiri dari 60 peserta pria dan 60 peserta wanita. Sementara Kategori Umum diikuti 60 peserta pria dan wanita berusia 45 tahun ke atas. Dari masing-masing kategori, dipilih 15 peserta terbaik yang berhak membawa pulang piala penghargaan.
Babak penyisihan berlangsung pada 6 Juni 2026, sedangkan babak final digelar sehari kemudian dan dihadiri ratusan tamu undangan, peserta, serta para sponsor yang antusias memberikan dukungan kepada para finalis. Penampilan para peserta dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas Li Weiqiang (李伟强), Grisnata, Chen Liying (陈丽英), Yingdi (英弟), dan Voni.
Untuk menjaga kualitas kompetisi, setiap peserta diwajibkan membawakan lagu yang berbeda. Proses penilaian dilakukan secara terbuka, sementara keputusan dewan juri bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
Ketua Cheerful Singing and Dancing, Hartati Setyomulyono yang juga dikenal dengan nama Mandarin Zhang Hui Fang (张慧芳), mengungkapkan rasa syukur atas tingginya antusiasme peserta yang datang dari berbagai kota di Indonesia.
"Total peserta tahun ini mencapai 180 orang dan kami menyediakan 90 piala bagi para pemenang," ujarnya.
Menurut Zhang Hui Fang, Cheerful National Cup telah diselenggarakan sebanyak empat kali dan rutin digelar setiap dua tahun sekali. Ia berharap kompetisi berikutnya dapat berlangsung lebih meriah dan menjangkau lebih banyak pecinta lagu Mandarin di Indonesia.
"Kami berharap dua tahun mendatang pesertanya semakin banyak dan acaranya semakin meriah," katanya.
Sementara itu, Sony Harsono menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, sponsor, dan para tamu undangan yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan Cheerful National Cup 2026.
Dukungan juga datang dari Presiden Direktur PT Matahari Sakti, Puspitadewi Prijadi (曾芸湘), yang menjadi salah satu sponsor kegiatan. Ia menilai kompetisi ini tidak hanya menjadi wadah menyalurkan bakat dan hobi menyanyi, tetapi juga memberikan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental.
"Selain menjadi wadah menyalurkan bakat, menyanyi sangat menyehatkan jiwa dan raga serta membuka kesempatan untuk mendapatkan banyak teman. Dalam kompetisi seperti ini peserta dapat saling melihat kemampuan satu sama lain, berbagi pengalaman, dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi," tuturnya.
Puspitadewi Prijadi juga turut memeriahkan acara dengan menyumbangkan sebuah lagu yang mendapat sambutan hangat dari para hadirin.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan kehadiran Lilian Sutanto bersama suaminya, Sugijanto Tjandra, yang juga menjadi salah satu sponsor kegiatan. Lilian turut menghibur para tamu dengan penampilan vokalnya yang memukau.
Tidak hanya para sponsor, Ketua Cheerful Singing and Dancing beserta para juri juga turut menyumbangkan lagu-lagu Mandarin pilihan yang menambah semarak suasana. Momen tersebut semakin memperlihatkan bahwa kompetisi ini bukan sekadar perlombaan, melainkan perayaan kebersamaan yang menyatukan para pecinta musik Mandarin lintas usia dan daerah.
Di penghujung acara, para pemenang dari masing-masing kategori diumumkan dan menerima penghargaan atas kerja keras serta penampilan terbaik mereka.
Lebih dari sekadar mengejar prestasi, Cheerful National Cup 2026 membuktikan bahwa musik mampu menjadi bahasa universal yang menyatukan banyak orang. Melalui lagu, para peserta tidak hanya menyalurkan bakat, tetapi juga membangun persahabatan, menjaga semangat hidup, serta menginspirasi satu sama lain untuk terus berkarya tanpa mengenal batas usia.
Bagi penggemar drama Korea maupun drama China, kini siapa saja bisa menciptakan kisah versinya sendiri dengan bantuan AI. Salah satu aplikasi yang menarik perhatian adalah Dola AI, yang memungkinkan pengguna membuat cerita hanya dengan mengetik alur yang diinginkan. AI kemudian akan menghasilkan ilustrasi atau visual sesuai imajinasi pengguna.
Tak hanya untuk berkreasi, Dola AI juga hadir sebagai asisten pintar yang mendukung berbagai aktivitas sehari-hari. Fitur unggulannya meliputi penyelesaian soal pelajaran melalui foto, pembuatan video realistis dari teks atau gambar, identifikasi objek melalui kamera, hingga penyusunan jadwal dan rencana perjalanan.
Menariknya, Dola AI menggabungkan berbagai model AI dalam satu aplikasi sehingga menawarkan beragam fungsi dalam satu platform. Aplikasi ini juga dapat diunduh secara gratis melalui App Store maupun Google Play Store, menjadikannya solusi praktis untuk belajar, bekerja, dan berkreasi di mana saja.
Terlahir Kembali
Namaku Wang Li Jun. Dahulu, aku adalah seorang saudagar sukses di masaku. Aku menjalin kerja sama dagang dengan bangsa Arab dan Eropa, mengirim berbagai komoditas melintasi lautan, dan mengumpulkan kekayaan yang besar. Di tengah kesibukan itu, aku tetap menikmati hidup, sering menghabiskan waktu di kedai kesukaanku bersama kerabat dan kawan sejawat.
Namun hidup berubah tiba-tiba. Suatu hari aku jatuh sakit parah. Kondisiku semakin memburuk hingga akhirnya aku meninggal dunia, meninggalkan seluruh harta dan kejayaan yang telah kukumpulkan. Setelah itu, semuanya menghilang. Aku tidak lagi mengingat apa pun.
Hingga suatu saat, aku terbangun kembali di dunia yang berbeda. Aku terlahir di zaman modern sebagai seorang pemuda biasa. Kini aku harus memulai dari nol, tanpa harta dan tanpa nama. Tapi mungkin, ini adalah kesempatan keduaku untuk membangun kembali hidupku.
Yayasan Sosial Dharma Warga merayakan hari jadinya yang ke-113 sekaligus menggelar upacara pemberkatan (titik mata) kepala barongsai baru di Gedung Pertemuan Jalan Sulung No. 31, Surabaya, Selasa (27/5/2026). Acara dihadiri ratusan tamu undangan, termasuk Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya, Mr. Ye Su, tokoh masyarakat Tionghoa, pengurus yayasan, serta berbagai komunitas Tionghoa di Surabaya.
Ketua Yayasan Sosial Dharma Warga, Aneng, menyampaikan bahwa yayasan yang didirikan para perantau asal Guangdong pada awal abad ke-20 ini terus menjunjung semangat persatuan, kegiatan sosial, dan pelestarian budaya Tionghoa. Dalam perayaan kali ini, yayasan menghidupkan kembali tim barongsai, membagikan 700 paket bantuan sosial, serta mengenang perjalanan panjang organisasi yang telah berdiri selama 113 tahun.
Konsul Jenderal Ye Su mengapresiasi peran yayasan dalam membantu integrasi masyarakat Tionghoa di Indonesia, melestarikan budaya, serta mempererat hubungan persahabatan Indonesia–Tiongkok. Acara dilanjutkan dengan prosesi titik mata tiga kepala barongsai baru, pemotongan tumpeng, pembagian bantuan sosial, dan berbagai pertunjukan seni budaya. Kegiatan ditutup dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan, sekaligus menampilkan dokumentasi sejarah panjang Yayasan Sosial Dharma Warga.
SURABAYA – Suasana haru mewarnai kegiatan bakti sosial pembagian alat bantu dengar bagi anak-anak tuna rungu di Surabaya, (16/5/26). Sebanyak 100 alat bantu dengar yang didatangkan dari Kanada disalurkan kepada anak-anak usia produktif sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan mereka.
Ketua Kelenteng Boen Bio Surabaya, Michael Agusta, mengatakan kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama Yayasan Sosial Moral Sejati Surya Gemilang Ming Ya Shan Ge Jakarta dan Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Ia berharap bantuan tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak, terutama dalam pendidikan dan komunikasi.
Sementara itu, Jonson dari yayasan yang sama menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan kali kedua digelar di Surabaya. Ia menilai penerima manfaat sebelumnya mengalami perubahan positif, menjadi lebih mandiri dan percaya diri setelah menggunakan alat bantu dengar.
Perwakilan Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir, Elder Daniel Stead dan Sister LaDawn Stead, juga menyampaikan kebahagiaan dapat terlibat dalam kegiatan kemanusiaan tersebut.
Salah satu orang tua penerima bantuan, Ani, mengaku bersyukur dan terharu karena anaknya akhirnya mendapatkan alat bantu dengar. Ia berharap anaknya dapat lebih mudah berkomunikasi dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberi bantuan alat, tetapi juga membuka harapan baru bagi anak-anak tuna rungu agar tumbuh lebih percaya diri dan mandiri.
Semangat olahraga padel kini semakin terasa di Jawa Timur. Dalam gelaran perdana East Java Junior Padel 2026 yang diselenggarakan PBPI Jawa Timur bersama Atom Sports Center Pasar Atom pada 9–10 Mei 2026, sosok muda Alicia Kate Sianto menjadi salah satu peserta yang mencuri perhatian.
Siswi Little Sun School itu tampil penuh percaya diri di kategori usia 12–14 tahun. Meski masih muda, Alicia menunjukkan keseriusannya menekuni olahraga padel lewat latihan rutin yang dijalaninya hingga tiga kali dalam seminggu.
“Saya memang suka olahraga tenis dan padel. Latihan seminggu tiga kali, bahkan bisa lebih,” ujar putri pasangan Erik Sianto dan Lidya Wati Sanjaya tersebut.
Sebelum mengenal padel, Alicia lebih dulu aktif bermain tenis. Namun karakter permainan padel yang cepat, seru, dan menantang membuatnya semakin tertarik untuk mendalaminya. Dari sekadar hobi, kini Alicia mulai memiliki mimpi untuk menjadi atlet profesional di cabang olahraga yang tengah naik daun itu.
Turnamen East Java Junior Padel 2026 sendiri menjadi ajang pembinaan atlet muda pertama yang digelar PBPI Jawa Timur. Kompetisi ini diikuti peserta kelompok usia 12 hingga 20 tahun, baik putra maupun putri, sekaligus menjadi bagian dari persiapan menuju Porprov 2027 dan PON 2028.
Ketua Umum PBPI Jawa Timur, Rudie Risdianto, menjelaskan turnamen ini menggunakan format Americano Series, di mana setiap pemain akan terus berganti pasangan di setiap ronde. Format tersebut dinilai mampu melatih kemampuan adaptasi dan komunikasi para atlet muda.
Selain pertandingan, panitia juga menghadirkan berbagai kegiatan menarik seperti free coaching clinic, free main bareng (mabar), hingga trial Head Ball yang semakin menambah antusiasme peserta dan pengunjung.
Wakil Ketua PBPI, Denny Harryson, berharap turnamen junior ini dapat menjadi awal lahirnya bibit-bibit atlet padel masa depan dari Jawa Timur.
“Turnamen junior ini diharapkan menjadi awal lahirnya bibit atlet padel masa depan sekaligus persiapan menuju Porprov 2027 dan PON 2028,” ujarnya.
Tak hanya menyenangkan, padel juga dikenal memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Dalam satu jam permainan, olahraga ini mampu membakar sekitar 450 hingga 1.000 kalori, meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru, memperkuat otot tubuh, serta melatih refleks dan koordinasi.
Bermain padel juga efektif membantu mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati karena dilakukan dalam atmosfer sosial yang menyenangkan. Tak heran jika olahraga ini semakin digemari anak muda, termasuk Alicia yang kini semakin mantap mengejar mimpinya di dunia padel.
Yayasan Sosial Abdi Husada Utama kembali menggelar bakti sosial operasi katarak gratis ke-36 bekerja sama dengan Klinik Utama Mata JEC Java @Surabaya, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat mengurangi risiko kebutaan akibat katarak, dengan 56 pasien dinyatakan lolos dan menjalani tindakan operasi.
Pendiri yayasan, Soeharsa Muliabarata, menyampaikan program ini telah rutin berjalan sejak 2015 dan hingga kini telah membantu 2.335 pasien. Ketua Dewan Pembina, DR. HC. Alim Markus, menilai kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kurang mampu yang mengalami gangguan penglihatan sehingga dapat kembali beraktivitas.
Direktur Klinik Utama Mata JEC Java @Surabaya, Novri Susanti, menjelaskan operasi menggunakan metode fakoemulsifikasi dengan sayatan minimal tanpa jahitan sehingga pemulihan lebih cepat, melibatkan delapan dokter. Kegiatan ini juga mendapat apresiasi berbagai pihak, termasuk dukungan dari yayasan dan organisasi sosial, serta disambut haru oleh pasien seperti Kapidun (87) asal Kediri yang bersyukur dapat kembali melihat.
Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Wushu Piala Wali Kota Surabaya 2026 berlangsung meriah di Fairway Nine Mall pada 1–3 Mei 2026, sebagai bagian dari Hari Jadi ke-733 Kota Surabaya. Ajang ini diikuti sekitar seribu atlet dari berbagai daerah dan menjadi sarana pembinaan serta seleksi menuju Porprov Jawa Timur 2027.
Asosiasi Tianxia Taijiquan Indonesia (ATTI) tampil sebagai juara umum dengan raihan 46 medali, terdiri atas 26 emas, 10 perak, dan 10 perunggu. Prestasi tersebut diraih meski hanya menurunkan 31 atlet, jauh lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.
Ketua Umum ATTI, Laoshi Adi Setiago, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut dan menegaskan peningkatan kualitas atlet taijiquan. Ia juga berharap ATTI semakin solid dan konsisten melahirkan prestasi.
Ketua Pengkot Wushu Surabaya, Chriswanto Agus Hariono, mengapresiasi kontribusi ATTI dalam pengembangan wushu, sementara Ketua KONI Surabaya, Arderio Hukom, menilai kejuaraan ini penting dalam pembinaan atlet berkelanjutan. Kabid Kepemudaan dan Olahraga Indrianto menambahkan, ajang ini berperan membentuk mental atlet sejak dini.
Kejuaraan mempertandingkan nomor taolu, tradisional, wing chun, hingga veteran, dengan peserta dari usia 8 tahun hingga lansia. Ajang ini diharapkan terus menjadi wadah pembinaan dan pencetak atlet wushu berprestasi nasional.
Tuban — Alun-Alun Tuban kini tampil dengan wajah baru yang lebih modern, estetis, dan penuh pesona. Ruang terbuka kebanggaan masyarakat ini disulap menjadi tempat yang tidak hanya nyaman untuk bersantai, tetapi juga menarik bagi siapa pun yang ingin berfoto, menikmati malam, atau sekadar duduk santai menikmati suasana kota.
Desain yang lebih segar dengan sentuhan elemen kontemporer, pencahayaan artistik, serta area pedestrian yang ramah pengunjung menjadikan Alun-Alun Tuban kian memikat. Banyak warga dan wisatawan tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen di sini, membuat wajah baru alun-alun ini viral di media sosial — terutama Instagram. Tak sedikit warga dari luar kota datang hanya untuk melihat langsung perubahan besar ini.
Kini, Alun-Alun Tuban tak hanya menjadi ruang publik, tapi juga simbol semangat baru kota pesisir yang terus berbenah, menata diri, dan berinovasi demi kenyamanan warganya.
Tepat di sisi barat alun-alun, berdiri megah Masjid Agung Tuban, salah satu ikon religius dan sejarah yang paling dibanggakan masyarakat. Masjid ini memiliki nilai historis tinggi. Pertama kali didirikan pada masa pemerintahan Bupati Tuban ke-7, Adipati Raden Ario Tedjo, dan mengalami renovasi pertama di masa Raden Tumenggung Kusumodigdo, Bupati Tuban ke-35.
Masjid Agung juga memiliki kedekatan sejarah dengan Sunan Bonang, salah satu Wali Songo yang terkenal di Jawa. Di masa lalu, masjid ini menjadi tempat Sunan Bonang mengajar agama Islam kepada masyarakat. Letaknya yang berdekatan dengan makam Sunan Bonang memperkuat nuansa spiritual kawasan ini.
Kini, dengan perpaduan antara nilai sejarah dan wajah kota yang lebih tertata, kawasan Alun-Alun dan Masjid Agung Tuban menjelma menjadi ruang publik yang tidak hanya cantik secara visual, tetapi juga sarat makna dan kenyamanan — sebuah wajah baru Tuban yang membanggakan.