Minggu, 11 Oktober 2026

130 Tahun Sedekah Bumi Kapasan Dalam, Tradisi yang Merawat Toleransi


 

SURABAYA – Warga Kampung Pecinan Kapasan Dalam, Surabaya, menggelar Sedekah Bumi ke-130 pada Selasa (6/10/2026) malam. Tradisi tahunan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus upaya melestarikan budaya dan menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat.


Acara dihadiri warga, akademisi, aparat, jajaran pemerintah setempat, serta sejumlah tamu undangan. Rangkaian kegiatan diawali doa yang dipimpin Ki Sudiro, dilanjutkan sedekah nasi tumpeng, pertunjukan barongsai, campursari, dan pagelaran wayang kulit.


Sesepuh Kampung Pecinan Kapasan Dalam, Dony Djhung, menuturkan bahwa tradisi tersebut berkaitan dengan sejarah dan kepercayaan warga terhadap petilasan seorang tokoh yang diyakini memiliki kesaktian. Ia menyebut, kisah bom yang tidak meledak saat kampung itu dibom pada masa penjajahan Belanda turut memperkuat keyakinan masyarakat untuk menjaga petilasan tersebut.




Menurut Dony, keberagaman warga keturunan Tionghoa, Jawa, dan Madura melahirkan akulturasi budaya yang terus terpelihara hingga kini. Ia juga menyebut warga yang dikenal sebagai Buaya Kapasan memiliki sejarah perjuangan melawan penjajahan.


Perwakilan Kelenteng Boen Bio, Gatot Seger Santoso, mengatakan perayaan tahun ini terasa istimewa karena berdekatan dengan peringatan kelahiran Nabi Konghucu. Kampung Kapasan Dalam sendiri berada di belakang kelenteng tersebut, yang menjadi bagian dari sejarah kehidupan masyarakat lintas budaya.


Dalam pagelaran wayang kulit, Ki Dalang Tee Boen Liong membawakan lakon Semar Boyong. Lakon tersebut diharapkan membawa harapan bagi kehidupan dan perekonomian warga. Ia mengaku telah 12 kali tampil di kampung itu dan mengapresiasi toleransi masyarakat setempat.


Semangat akulturasi juga tampak dari keterlibatan sinden Angelica yang memiliki darah Tionghoa, bersama sejumlah sinden dari Blitar, Madiun, dan Surabaya. Mereka membawakan tembang tradisional Jawa untuk memeriahkan acara.


Selain pertunjukan seni, pedagang makanan turut meramaikan kampung. Sesepuh kampung, Awi, juga membagikan permen kepada anak-anak yang hadir.


Sedekah Bumi ke-130 Kapasan Dalam bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ruang untuk merawat sejarah, mempererat kebersamaan, dan menunjukkan bahwa perbedaan budaya dapat hidup berdampingan dalam semangat toleransi.

Minggu, 27 September 2026

Sri Endah: Festival Bulan Purnama Jadi Ruang Memperkuat Harmoni Lintas Budaya

 



Festival Bulan Purnama yang digelar Sanggar Agung Surabaya pada 25–27 September 2026 bukan sekadar menghadirkan hiburan bernuansa budaya Tionghoa. Di balik kemeriahan festival, tersimpan pesan tentang kebersamaan keluarga, rasa syukur, interaksi sosial, hingga pentingnya membangun pemahaman lintas budaya di tengah masyarakat.


Dosen Kepariwisataan/Bina Wisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si., mengapresiasi penyelenggaraan Festival Bulan Purnama tersebut. Menurutnya, perayaan ini memiliki nilai budaya dan sosial yang kuat karena mengajarkan hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, serta Tuhan.


“Festival ini penting karena menjadi ruang untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Ada nilai kebersamaan, rasa syukur, sekaligus interaksi sosial yang dapat dikenalkan kepada masyarakat luas,” ujar Sri Endah.


Ia menjelaskan, salah satu tradisi yang lekat dengan Festival Bulan Purnama adalah berbagi kue bulan. Bentuknya yang bulat menjadi simbol keutuhan dan kebersamaan keluarga. Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota keluarga dan komunitas.


Menurut Sri Endah, perayaan seperti ini juga memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Pengenalan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas dapat memperkuat pemahaman lintas budaya sehingga setiap kelompok masyarakat dapat saling mengenal dan menghargai tradisi satu sama lain.





“Pemahaman lintas budaya sangat baik dalam kehidupan bermasyarakat karena dapat menjaga keseimbangan hubungan antaretnis dan mencegah munculnya konflik yang bersumber dari perbedaan budaya maupun latar belakang,” jelasnya.


Selain memiliki nilai sosial dan budaya, Festival Bulan Purnama juga dapat memberikan dampak ekonomi. Kehadiran bazaar kuliner dan berbagai aktivitas masyarakat membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan makanan serta produk yang berkaitan dengan budaya Tionghoa.


Festival Bulan Purnama sendiri memiliki makna utama sebagai simbol keutuhan, keharmonisan keluarga, dan rasa syukur. Perayaan yang dikenal pula sebagai Festival Kue Bulan atau Mid-Autumn Festival ini berakar dari tradisi masyarakat yang merayakan berakhirnya musim panen. Bulan purnama yang bulat sempurna kemudian dimaknai sebagai lambang persatuan dan reuni keluarga.


Di Sanggar Agung, nilai tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang mengajak masyarakat berkumpul dan berinteraksi. Festival menghadirkan Pasar Purnama berupa bazaar kuliner, Pohon Harapan untuk menggantungkan pita doa, Lentera Apung di tepi laut, serta permainan Mahjong.


Suasana festival juga dimeriahkan pertunjukan barongsai. Pada Jumat digelar Pelepasan Balon Harapan, Sabtu menghadirkan kegiatan Single Out, sedangkan Minggu diisi Zumba Party, Inside Flow Yoga, dan Live Karaoke.


Pengunjung juga diajak mengenakan pakaian bergaya Mandarin selama festival. Perpaduan antara tradisi, hiburan, kuliner, aktivitas komunitas, dan suasana tepi laut membuat Festival Bulan Purnama menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan.


Bagi Sri Endah, perayaan semacam ini bukan hanya tentang mempertahankan sebuah tradisi, tetapi juga bagaimana budaya dapat menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan antarmanusia.


Cahaya bulan purnama yang menjadi simbol perayaan pun seolah membawa pesan sederhana: perbedaan budaya tidak harus menjadi jarak. Sebaliknya, ketika dipahami dan dirayakan bersama, keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.

Selasa, 22 September 2026

Tak Perlu Jauh ke Jakarta, Nikmati Soto Betawi dan Soto Tangkar di Surabaya

 



SURABAYA – Ingin menikmati kuliner khas Betawi tanpa harus jauh-jauh ke Jakarta? Depot Soto Betawi Bu Elly di Surabaya bisa menjadi pilihan. Baru sekitar satu tahun berdiri, depot ini mulai dikenal luas berkat cita rasa soto Betawi dan soto tangkar yang kaya rempah serta potongan daging yang menggugah selera.


Elly pemilik Depot Soto Betawi Bu Elly, mengatakan usahanya yang baru berjalan sekitar setahun tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Popularitasnya pun terus berkembang hingga membuat depotnya dikenal sebagai salah satu tempat untuk menikmati hidangan khas Betawi di Surabaya.


Ada dua menu andalan yang ditawarkan, yakni Soto Betawi dan Soto Tangkar. Soto Betawi dibanderol Rp35 ribu per porsi, sedangkan Soto Tangkar Rp40 ribu, keduanya disajikan bersama nasi. Untuk menemani santapan, tersedia pula minuman seperti es teh dan es wintermelon.


Melihat tingginya minat masyarakat, Elly pun mulai memperkenalkan produknya di berbagai kesempatan. Salah satunya dengan membuka stan dalam acara Cap Kapal Run Fest yang digelar pada 18–20 September 2026 di kawasan Bay Arena Sport Center Surabaya.


Bagi pencinta kuliner yang ingin mencicipi sensasi kuah gurih berbumbu khas Betawi dengan potongan daging yang nikmat, Depot Soto Betawi Bu Elly dapat dikunjungi di Jalan Dr. Ir. H. Soekarno Nomor 31, RK IV, Rungkut Kidul, Surabaya. Informasi lebih lanjut dapat dilihat melalui akun Instagram @sotobetawi_buelly.




Selasa, 08 September 2026

Cheng Hoo Cup 2 Tutup Turnamen, Persahabatan Atlet Veteran Makin Erat



SURABAYA — Semangat olahraga dan persahabatan lintas negara mewarnai penutupan Cheng Hoo Cup 2 Surabaya International Veteran Table Tennis Championship di Gedung Olahraga CLS Kertajaya, Surabaya, Minggu (6/9/2026).


Turnamen yang berlangsung sejak 4 September tersebut diikuti sekitar 300 atlet veteran dari enam negara, yakni Indonesia, Tiongkok, Jepang, Kamboja, Thailand, dan Australia. Kegiatan ini diselenggarakan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia.


Ketua Panitia sekaligus Dewan Pengawas Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia, Sutiono Adi Tjandra, mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung kelancaran turnamen. Ia berharap Cheng Hoo Cup dapat kembali digelar tiga tahun mendatang dengan jumlah peserta dan negara yang lebih banyak.


Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Jawa Timur, Muhammad Nabil, juga mengapresiasi kehadiran ratusan atlet veteran. Menurutnya, turnamen tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mendorong masyarakat tetap aktif berolahraga sekaligus membuka peluang regenerasi atlet tenis meja.



Antusiasme turut dirasakan atlet veteran asal Thailand, Nattapon Chirawatanakerd. Ia mengaku senang mengikuti turnamen dan berharap dapat kembali berpartisipasi pada penyelenggaraan berikutnya.


Sementara itu, Ismu Harinto berhasil meraih juara pertama kategori Tunggal Veteran Putra kelompok usia 50–59 tahun. Ia menilai Cheng Hoo Cup menjadi wadah penting bagi atlet veteran untuk tetap aktif dan berprestasi di tingkat internasional.


Penutupan diawali pertandingan final seluruh kategori, dilanjutkan doa penutup dan penyerahan hadiah uang pembinaan kepada para pemenang. Ketua Panitia, Sutiono Adi Tjandra, kemudian secara resmi menutup turnamen.


Berakhirnya Cheng Hoo Cup 2 menegaskan bahwa olahraga dapat menjadi sarana menjaga kebugaran, meraih prestasi, sekaligus mempererat persahabatan lintas usia dan negara.

Jumat, 04 September 2026

300 Atlet Veteran Internasional Bertanding di Cheng Hoo Cup 2 Surabaya


 

SURABAYA, 4 September 2026 — Sebanyak 300 atlet veteran dari Indonesia, Tiongkok, Jepang, Kamboja, Thailand, dan Australia mengikuti Cheng Hoo Cup 2 Surabaya International Veteran Table Tennis Championship yang berlangsung 4–6 September 2026 di Gedung Olahraga CLS Kertajaya, Surabaya.


Turnamen ini diselenggarakan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI). Ketua Panitia sekaligus Dewan Pengawas YHMCHI, Sutiono Adi Tjandra, mengatakan jumlah peserta meningkat dua kali lipat dibanding penyelenggaraan pertama tiga tahun lalu yang diikuti sekitar 150 atlet.


Menurut Sutiono, Cheng Hoo Cup tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antar-atlet, memperkenalkan nama Cheng Hoo di tingkat nasional dan internasional, sekaligus mendukung perkembangan tenis meja Indonesia.


Kejuaraan mempertandingkan kategori tunggal putra dan putri usia 40, 50, dan 60 tahun serta beregu putra. Hadiah yang disiapkan mencapai 1.200 dolar Amerika Serikat untuk beregu putra dan 800 dolar Amerika Serikat untuk kategori tunggal.


Ketua YHMCHI, H.A. Nurawi, mengapresiasi kehadiran para peserta dari berbagai negara. Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia, Peter Layardi Lay, menilai kejuaraan veteran dapat menjaga semangat olahraga sekaligus menginspirasi atlet muda untuk berprestasi.



Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur, M. Hadi Wawan Guntoro, serta Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Ye Su. Keduanya menilai kegiatan ini memiliki nilai positif dalam pengembangan olahraga sekaligus memperkuat hubungan dan persahabatan antarnegara.


Tokoh pengusaha DR. HC. Alim Markus turut memberikan dukungan dan mengungkapkan bahwa tenis meja menjadi salah satu olahraga yang rutin ia lakukan untuk menjaga kesehatan. Dewan Pendiri Masjid Cheng Hoo Surabaya, HMY Bambang Sujanto, juga mengajak para atlet menjunjung tinggi sportivitas.


Pembukaan diisi dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, doa, santunan bagi anak yatim, sambutan para tokoh, serta penghargaan kepada donatur. Sejumlah tokoh juga turut bermain tenis meja secara simbolis sebelum pertandingan dimulai.


Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus, pembina, dan penasihat YHMCHI, tokoh pengusaha dan masyarakat Tionghoa Surabaya, perwakilan Konsulat Jenderal Jepang dan Australia, Polda Jawa Timur, instansi terkait, serta para atlet dan pecinta tenis meja.


Cheng Hoo Cup 2 diharapkan menjadi wadah kompetisi yang sehat bagi atlet veteran sekaligus memperluas persahabatan lintas negara dan mendorong perkembangan tenis meja di Indonesia. (Red)

Kamis, 03 September 2026

Pembangunan Gapura dan Pagar Masjid Cheng Hoo Surabaya Resmi Dimulai

 


Pembangunan gapura, pagar, dan kanopi di kompleks Masjid Cheng Hoo Surabaya resmi dimulai. Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) menggelar peletakan batu pertama pada Jumat (28/8/2026) di halaman Masjid Cheng Hoo Surabaya.


Prosesi diawali doa yang dipimpin Takmir Masjid Cheng Hoo Surabaya Ustadz Hariyono Ong, dilanjutkan peletakan batu pertama dan pemotongan tumpeng. Kegiatan dihadiri Pendiri sekaligus Dewan Pembina YHMCHI HMY Bambang Sujanto, Direktur Utama PT Hartono Wira Tanik Heru Budihartono, Direktur PT Matahari Sakti Rudy Purwono, Siti Fatimah Sukri, perwakilan BPR Syariah, serta jajaran pengurus YHMCHI.


HMY Bambang Sujanto mengatakan, pembangunan gapura dan pagar telah direncanakan sejak 24 tahun lalu dan baru terealisasi berkat dukungan para donatur. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang membantu, khususnya Heru Budihartono yang konsisten mendukung pengembangan Masjid Cheng Hoo Surabaya.


Heru Budihartono menyatakan dukungannya terhadap pembangunan fasilitas tersebut. Menurutnya, pengembangan kawasan Masjid Cheng Hoo penting untuk menunjang kegiatan masyarakat. Ia juga meninjau gedung SD dan SMP Islam Cheng Hoo yang telah selesai dan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.


“Gedungnya bagus, kelas-kelasnya juga bagus. Saya sangat mendukung pembangunan di Masjid Cheng Hoo Surabaya ini,” ujar Heru.


Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Heru Budihartono yang kemudian diserahkan kepada HMY Bambang Sujanto selaku Ketua Panitia Pembangunan Gapura, Pagar, dan Kanopi Masjid Cheng Hoo Surabaya.


Pembangunan tersebut menjadi bagian dari pengembangan kawasan Masjid Cheng Hoo Surabaya yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga mendukung kegiatan pendidikan dan aktivitas masyarakat.




Senin, 31 Agustus 2026

Pelajar SNA Berbagi Kepedulian di Santa Yulia Surabaya


 

Sejumlah pelajar kelas 1 SMA Singapore National Academy (SNA) yang tergabung dalam organisasi Our Purpose menggelar bakti sosial di Panti Asuhan dan Asrama Santa Yulia Surabaya, Sabtu (29/8/2026).


Ketua Our Purpose, Colin Adiyaja, mengatakan kegiatan tersebut diisi dengan penyerahan donasi berupa beras, makanan ringan, susu kaleng, tisu, pisang, minuman, serta makan siang berupa tumpeng nasi kuning.


Tak hanya berbagi bantuan, para pelajar juga memberikan edukasi mengenai menstruasi dan mengajak penghuni panti bermain bersama. Wakil Ketua Our Purpose, Chevira Azzahra Raesditra, mengatakan tema tersebut dipilih karena sebagian besar penghuni merupakan remaja putri.


“Kami memilih tema edukasi tentang menstruasi karena penghuni panti dan asrama adalah remaja putri. Menstruasi merupakan proses biologis yang normal dan tanda bahwa tubuh bertumbuh sehat,” jelasnya.


Anggota Our Purpose, Charlene Liu Suharto, berharap edukasi tersebut membantu para remaja putri memahami pentingnya menjaga kebersihan menstruasi sebelum mengalami menstruasi pertama, sehingga mereka tidak merasa takut maupun malu.


Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari HMY Bambang Sujanto, pendiri Masjid Cheng Hoo Surabaya sekaligus kakek Charlene. Menurutnya, kepedulian para pelajar terhadap sesama patut menjadi contoh bagi generasi muda.


Kepala Panti Asuhan dan Asrama Santa Yulia Surabaya, Suster Ruth, menyampaikan terima kasih atas kepedulian para pelajar SNA. Saat ini, Santa Yulia dihuni 43 anak, mulai jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.


Salah seorang penghuni, Angel, siswi kelas 1 SMAK Stella Maris Surabaya, mengaku senang mendapat kunjungan tersebut. “Kami mendapat wawasan tentang menstruasi dan itu sangat penting. Kami mengucapkan terima kasih,” ujarnya.


Asrama Santa Yulia Surabaya memiliki sejarah panjang. Cikal bakalnya bermula dari kepedulian Nyonya Boers yang pada 1862 merintis rumah bagi anak yatim. Pengelolaan kemudian berpindah hingga pada 15 Juli 1950 diserahkan kepada Suster-Suster Santa Perawan Maria dan namanya berubah menjadi Panti Asuhan Santa Yulia.


Kini, Santa Yulia berada di bawah naungan Badan Sosial Santa Perawan Maria dan menjadi tempat pembinaan anak-anak dari berbagai daerah.




Starla Amayra Kusworo Raih Gold Award Festival Indonesiana 8

 


Semangat mengembangkan bakat di dunia musik kembali mengantarkan Starla Amayra Kusworo (容淑钰) meraih prestasi. Putri pasangan Hendy Kusworo (容宝鸿) dan Niken (陈晶晶) tersebut berhasil meraih Gold Award Kategori Menyanyi Pop Grup C usia 13–16 tahun dalam Festival Indonesiana 8 (FI8) Festival Nasional Seni Budaya Indonesia yang digelar Amadeus Enterprise di Surabaya, 30 Agustus 2026.


Bagi Starla, penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus mengasah kemampuan dan menambah pengalaman bermusik. Ia berkomitmen lebih aktif mengikuti konser dan kompetisi, baik di dalam maupun luar negeri.


“Festival Indonesiana merupakan lomba musik tingkat nasional yang diikuti peserta dari berbagai daerah. Peserta membawakan lagu-lagu bertemakan Indonesia agar generasi muda tetap mengenal, menghargai, dan menjunjung budaya bangsa,” ujar Starla.


Prestasi Starla mendapat dukungan penuh dari keluarga yang hadir langsung selama perlombaan. Sang kakek, Budiman Wahyudi (陳文华), pemilik Felia Tour and Travel, mengaku bangga melihat perkembangan cucunya yang terus berprestasi.


Sebelumnya, Starla telah meraih sejumlah penghargaan, antara lain Juara III Melodia Competition 2024, Juara III ASAF 2024 Preliminary Round, Juara III ASAF 2025 Final Round di Hong Kong, Juara III IYMMC 2025, Juara III RIMF 2026, serta Juara II AAF 2026.


Prestasi terbarunya sebelum Festival Indonesiana 8 diraih dalam Asia Art Festival ke-13 di Singapura, 6–12 Juli 2026. Starla meraih Juara II Kategori Vokal dalam ajang yang diikuti peserta dari sejumlah negara.


Festival Indonesiana 8 yang berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan seni sekaligus mengenal dan melestarikan budaya Indonesia. Festival ini menghadirkan berbagai kategori kompetisi musik serta mengangkat unsur budaya melalui penggunaan kain tradisional Indonesia.


Bagi Starla, setiap kompetisi bukan hanya tentang meraih penghargaan, tetapi juga kesempatan untuk belajar, membangun keberanian, memperkaya pengalaman, dan terus berkembang. Gold Award Festival Indonesiana 8 menjadi langkah baru dalam perjalanan Starla mengejar impiannya di dunia musik. (Red)



Selasa, 25 Agustus 2026

284 Kantong Darah Terkumpul, Aksi Donor Hwie Tiauw Ka Surabaya Disambut Antusias

 


SURABAYA - Semangat kemerdekaan diwujudkan dengan aksi kemanusiaan. Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya menggelar donor darah serentak di Pasar Atom Mall dan Grand City Mall, Sabtu (22/8/2026).


Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 RI dan rangkaian donor darah Hakka se-Indonesia ini disambut antusias warga.


Panitia menargetkan 300 kantong darah dari dua lokasi. Hasilnya, dari total 372 pendaftar, terkumpul 284 kantong darah - hampir mencapai target.


Rinciannya, di Pasar Atom Mall tercatat 225 pendaftar dengan 183 orang lolos donor, sementara di Grand City Mall 147 pendaftar dengan 101 kantong darah berhasil dikumpulkan.


Mewakili pengurus, Jayapranata mengatakan setiap pendonor yang lolos mendapatkan bingkisan sembako berisi beras, gula, minyak goreng, susu, dan mi instan.


"Kegiatan ini juga untuk membantu stok darah di PMI sehingga masyarakat yang membutuhkan darah cepat terlayani," ujarnya didampingi pengurus lainnya.


Penggerak Donor Darah Sukarela, Totok Sudarto, mengapresiasi konsistensi Hwie Tiauw Ka Surabaya yang rutin menggelar donor darah. Persiapan hanya satu minggu, namun dengan dua lokasi, warga jadi lebih mudah menjangkau.